Pinky Design Pointer

Minggu, 19 Maret 2017

TUGAS-1 KONSELING DAN PSIKOTERAPI 3PA04

KONSELING DAN PSIKOTERAPI

          A.  Definisi Konseling Dan Psikoterapi
·        KONSELING

Konseling merupakan suatu proses pemberian bantuan yang dilakukan konselor kepada klien untuk dapat mengatasi permasalahan yang ada pada diri klien. Robert L. Gibson (2011) mendefinisikan konseling sebagai hubungan yang berupa bantuan satu-satu yang berfokus kepada pertumbuhan dan penyesuaian pribadi dan memenuhi kebutuhan akan penyelesaian problem dan kebutuhan pengambilan keputusan. Bantuan ini bersifat terpusat dan dibutuhkan kepercayaan klien kepada konselor tentang apa yang disampaikannya. Bantuan ini ditandai dengan adanya kontak psikologis yang terjadi antara klien dan konselor.

Menurut Mcleod (2010) konseling bukan hanya sebuah peristiwa yang terjadi diantara dua individu. Konseling juga merupakan intitusi sosial yang tertanam dalam kultur masyarakat
modern. Konseling merupakan sebuah pekerjaan, disiplin keilmuan dan profesi baru. Mcleod mencoba mendefinisikan konseling dengan mengabungkan beberapa pendapat (Burks, Stefflre, Feltham, Dryden dan British Association of Counseling) yang menekankan bahwa konseling adalah suatu hubungan professional dalam bentuk pertolongan dengan menekankan ekplorasi dan pemahaman serta proses penentuan diri.

Geldard dan Gildard (2008) menjelaskan bahwa konseling biasanya ditujukan untuk membantu klien menyelesaikan problem yang mengangu mereka. Konseling juga dimaksudkan untuk membantu klien mengembangkan beragam cara yang lebih positif untuk menyikapi hidup. Konseling pada umumnya bertujuan memecahkan masalah-masalah klien atau menumbuhkan kekuatan mereka dalam menyikapi hidup.

·          PSIKOTERAPI

Psikoterapi berasal dari dua kata, yaitu “psyche” yang berarti “jiwa” dan “therapy” yang berarti “pengobatan”. Jadi “psikoterapi” berarti “pengobatan jiwa” .Sampai saat ini psikoterapi dianggap sebagai aspek murni psikiatri yang merupakan bagian integral dari praktek psikatri dan relevant digunakan pada gangguan psikiatrik, Psikoterapi digunakan untuk ,meningkatkan sikap fleksibilitas, kebebasan, kebahagian dalam hidup mereka.

Psikoterapi merupakan usaha seorang terapis untuk memberikan suatu pengalaman baru bagi orang lain. Pengalaman ini dirancang untuk meningkatkan kemampuan seseorang dalam mengelola
distres subjektif. Ini tidak dapat mengubah problem pasien yang ada.Tetapi dapat meningkatkan penerimaan diri sendiri, membolehkan pasien untuk melakukan perubahan kehidupan dan menolong pasien untuk mengelola lingkungan secara lebih efektif.

Menurut Lewis R. Wolberg (1977), Psikoterapi adalah perawatan dengan menggunakan alat-alat psikologik terhadap permasalahan yang berasal dari kehidupan emosional dimana seorang ahli secara sengaja menciptakan hubungan profesional dengan pasien.

Psikoterapi adalah suatu intervensi interpersonal, relational yang digunakan oleh psikoterapis untuk membantu pasien atau klien dalam menghadapi problem-problem kehidupannya. Biasanya hal ini meliputi peningkatan perasaan sejahtera individual dan mengurangi pengalaman subjektif yang tidak nyaman. Psikoterapis memakai suatu batasan tehnik-tehnik yang berdasarkan pengalamannya membangun hubungan, perubahan dialog, komunikasi dan perilaku dan dirancang untuk memperbaiki kesehatan mental pasien atau klien, atau memperbaiki hubungan kelompok (seperti dalam keluarga)

          B.   PERBEDAAN KONSELING DAN PSIKOTERAPI

          
Istilah psikoterapi dan konseling sering muncul bersamaan dan bertumpang tindih, dan terkadang sulit membedakan antara konseling dan terapi. dalam buku yang dituliskan oleh Rogers berjudul Counseling and Psychoterapy (1942) MAKA ROGERS tidak membedakan antara psikoterapi dan konseling. ia hanya menyebutkan bahwa psikoterapi banyak digunakan dalam kalangan pendidikan, sedangkan psikoterapi banyak digunakan dalam kalangan pekerja sosial. ia tidak secara kaku membedakan antara psikoterapi dan konseling karena keduanya bertujuan membantu seseorang yang mempunyai masalah. Gladding (2004) membedakan antera psikoterapi dan konseling berdasarkan definisi keduannya:
A.   Konseling
1.     berkaitan dengan bidang bidang yang melibatkan hubungan antara manusia dan hubungannya dengan dirinya sendiri, berhubungsn dengan menemukan makna hidup dan penyesuaina dalam berbagai situasi (sekolah, karir, keluarga, dan lain lain)
2.     untuk orang orsng yang masih dianggap dapat berfungsi dengan normal
3.     berdasarkan teori dan berlangsung dalam seting ang berstruktur
4.     suatu proses di mana klien belajar bagaimana membuat keputusan dan memormulasikan cara baru untuk bertingkah laku, merasa dan berfikir
B.   Psikoterapi
1.     berhubungan dengan masalah gangguan jiwa yang lebih serius
2.     lebih menekankan pada yang lalu daripada yang sekarang
3.     lebih menekankan pada insight daripada perubahan
4.     terapis menyembunyikan dan tidak membeberkan nilai nilai perasaan
5.     peran terapis lebih sebagai seorang ahli daripada sharing partner
6.     perubahan perubahan besiat rekonstruktif
7.     hub8ungan bersifat jangka panjang (20-40 sesi pertemuan)

          C.   FUNGSI DAN TUJUAN KONSELING 
               DAN PSIKOTERAPI
·        KONSELING

Fungsi konseling diantaranya adalah pemahaman, yaitu fungsi bimbingan dan konseling membantu konseli agar memiliki pemahaman terhadap dirinya dan lingkungannya (Fenti Hikmawati, 2010: 16). Berdasarkan pemahaman ini, konseli diharapkan mampu mengembangkan potensi diri secara optimal, mengenali diri (peran sebagai makhluk), dan menyesuaikan dirinya dengan lingkungan secara dinamis dan konstruktif. Dalam artian konselor juga harus memiliki pemahaman yang baik tentang siswanya, mengenai tugas perkembangan siswa tersebut, sehingga layanan yang program bimbingan konseling di sekolah bisa tepat guna.

Dalam kelangsungan perkembangan kehidupan manusia, berbagai pelayanan
dikreasikan dan diselenggarakan. Layanan itu bermanfaat untuk memperlancar dan sebesarbesarnya memberikan dampak positif terhadap kelangsungan perkembangan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, menurut Prayitno (1997:99), bahwa fungsi suatu pelayanan dapat diketahui dengan melihat kegunaan, manfaat, ataupun keuntungan. Sebaliknya, suatu pelayanan tidak dapat dikatakan berfungsi jika ia tidak mampu memberikan kegunaan dan manfaat bagi individu yang memerlukannya. Hal ini bermakna bahwa layanan yang dibuat konselor harusnya merujuk pada kebutuhan siswa tersebut dalam hal ini berkenaan dengan tugas perkembangan siswa.

Fungsi bimbingan dan konseling di wujudkan melalui penyelenggaraan berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung untuk mencapai hasil sebagaimana terkandung didalam masingmasing fungsi. Setiap layanan dan kegiatan pendukung yang dilaksanakan harus secara langsung mengacu pada satu atau lebih dari fungsi-fungsi agar hasil yang hendak dicapai secara jelas dapat diidentifikasikan dan di evaluasi.
Adapun fungsi-fungsi bimbingan konseling yaitu :
1.     Fungsi pemahaman
Fungsi pemahaman, yaitu fungsi bimbingan dan konseling membantu konseli agar memiliki pemahaman terhadap dirinya (potensinya) dan lingkungannya (pendidikan, pekerjaan, dan norma agama). Berdasarkan pemahaman ini, konseli diharapkan mampu mengembangkan potensi dirinya secara optimal, dan menyesuaikan dirinya dengan lingkungan secara dinamis dan konstruktif.
2.     Fungsi Preventif
Fungsi Preventif, yaitu fungsi yang berkaitan dengan upaya konselor untuk senantiasa mengantisipasi berbagai masalah yang mungkin terjadi dan berupaya untuk mencegahnya, supaya tidak dialami oleh konseli. Melalui fungsi ini, konselor memberikan bimbingan kepada konseli tentang cara menghindarkan diri dari perbuatan atau kegiatan yang membahayakan dirinya. Adapun teknik yang dapat digunakan adalah pelayanan orientasi, informasi, dan bimbingan kelompok. Beberapa masalah yang perlu diinformasikan kepada para konseli dalam rangka mencegah terjadinya tingkah laku yang tidak diharapkan, diantaranya : bahayanya minuman keras, merokok, penyalahgunaan obat-obatan, drop out, dan pergaulan bebas (free sex).
3.     Fungsi perbaikan
Fungsi Perbaikan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling untuk membantu konseli sehingga dapat memperbaiki kekeliruan dalam berfikir, berperasaan dan bertindak (berkehendak). Konselor melakukan intervensi (memberikan perlakuan) terhadap konseli supaya memiliki pola berfikir yang sehat, rasional dan memiliki perasaan yang tepat sehingga dapat mengantarkan mereka kepada tindakan atau kehendak yang produktif dan normatif.
4.     Fungsi pemeliharaan dan pengembangan
Fungsi Pengembangan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang sifatnya lebih proaktif dari fungsi-fungsi lainnya. Konselor senantiasa berupaya untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, yang memfasilitasi perkembangan konseli. Konselor dan personel Sekolah/Madrasah lainnya secara sinergi sebagai teamwork berkolaborasi atau bekerjasama merencanakan dan melaksanakan program bimbingan secara sistematis dan berkesinambungan dalam upaya membantu konseli mencapai tugas-tugas perkembangannya. Teknik bimbingan yang dapat digunakan disini adalah pelayanan informasi, tutorial, diskusi kelompok atau curah pendapat (brain storming), home room, dan karyawisata.

5.     Fungsi Fasilitasi
Fungsi Fasilitasi, memberikan kemudahan kepada konseli dalam mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal, serasi, selaras dan seimbang seluruh aspek dalam diri konseling.
6.     Fungsi Penyesuaian
Fungsi Penyesuaian, yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu konseli agar dapat menyesuaikan diri dengan diri dan lingkungannya secara dinamis dan konstruktif.
7.     Fungsi Penyaluran
Fungsi Penyaluran, yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu konseli memilih kegiatan ekstrakurikuler, jurusan atau program studi, dan memantapkan penguasaan karir atau jabatan yang sesuai dengan minat, bakat, keahlian dan ciri-ciri kepribadian lainnya. Dalam melaksanakan fungsi ini, konselor perlu bekerja sama dengan pendidik lainnya di dalam maupun di luar lembaga pendidikan.
8.     Fungsi Pemeliharaan
Fungsi Pemeliharaan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling untuk membantu konseli supaya dapat menjaga diri dan mempertahankan situasi kondusif yang telah tercipta dalam dirinya. Fungsi ini memfasilitasi konseli agar terhindar dari kondisi-kondisi yang akan menyebabkan penurunan produktivitas diri. Pelaksanaan fungsi ini diwujudkan melalui program-program yang menarik, rekreatif dan fakultatif (pilihan) sesuai dengan minat konseli
9.     Fungsi Adaptasi
Fungsi Adaptasi, yaitu fungsi membantu para pelaksana pendidikan, kepala Sekolah/Madrasah dan staf, konselor, dan guru untuk menyesuaikan program pendidikan terhadap latar belakang pendidikan, minat, kemampuan, dan kebutuhan konseli. Dengan menggunakan informasi yang memadai mengenai konseli, pembimbing/konselor dapat membantu para guru dalam memperlakukan konseli secara tepat, baik dalam memilih dan menyusun materi Sekolah/Madrasah, memilih metode dan proses pembelajaran, maupun menyusun bahan pelajaran sesuai dengan kemampuan dan kecepatan konseli.
10.            Fungsi Penyembuhan
Fungsi Penyembuhan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang bersifat kuratif. Fungsi ini berkaitan erat dengan upaya pemberian bantuan kepada konseli yang telah mengalami masalah, baik menyangkut aspek pribadi, sosial, belajar, maupun karir. Teknik yang dapat digunakan adalah konseling, dan remedial teaching.

Pada saat awal konseling ada beberapa tujuan yang hendak dicapai dalam kegiatan konseling awal, yaitu :
1.     mengurangi kecemasan klien
2.     menahan diri untuk tidak berbicara terlalu banyak
3.     mendengarkan dengan saksama apa yang dikatakan klien dan berusaha untuk menata kembali kata-kata yang dijelaskan oleh klien
4.      menyadari bahwa topic yang dipilih klien itu merupakan topic utama untuk saat ini. ( Nurichsan A,J.,2007:88)
Jadi apapun yang diungkapkan klien atau peserta didik upayakan konselor mendengarkannya
sebagai penghargaan kepada setiap klien, baik itu masalah pribadi, sosial, belajar maupun
masalah karir peserta didik atau mengungkapkan masalah pemilihan bakat, minat dan potensi
yang dimilikinya demi mengoptimalkan potensi dirinya.

·        PSIKOTERAPI

Menurut Hamdani Bakran Adz-Dzaky (2002: 225-228) dalam buku Konseling dan psikoterapi islam membagi fungsi psikoterapi islam menjadi tiga bagian yaitu sebagai berikut :
1.         Fungsi Pencegahan (Prefention)
Fungsi pencegahan (prevention), dengan mempelajari, memahami, dan mengaplikasikan ilmu ini, seseorang akan dapat terhindar dari hal-hal, keadaan atau peristiwa yang membahayakan dirinya, jiwa, mental, spiritual, atau moralnya. Sebab ilmu akan menimbulkan potensi prefentif sebagaimana yang telah diberikan Allah kepada hamba-hambaNya yang dikehendakiNya.
2.         Fungsi Penyembuhan dan perawatan (Treatment)
Fungsi penyembuhan/perawatan (treatment), psikoterapi islam akan membantu seseorang melakukan pengobatan, penyembuhan dan perawatan terhadap gangguan atau penyakit, khusunya kepada gangguan mental, spiritual, kejiwaan, seperti dengan berdzikir, hati dan jiwa menjadi tengang dan damai, dengan berpuasa akal fikiran, hati nurani, jiwa, mental menjadi suci dan bersih, dengan shalat dan membaca shalawat Nabi Muhammad SAW spirit dan etos kerja akan bersih dan suci dari gangguan setan, iblis, jin, dan sebagainya.
3.         Fungsi Pensucian (Sterilisasi) dan Pembersihan (Purification)
Fungsi pensucian dan pembersihan (sterilisasi/purrification), psikoterapi islam melakukan upaya pensucian-pensucian diri dari bekasan-bekasan dosa dan kedurhakaan dengan pensucian najis (istinja’), pensucian yang kotor (mandi), pensucian yang bersih (wudhu), pensucian yang suci atau fitri (shalat taubat), dan pensucian yang Maha Suci (dzikrullah mentauhidkan Allah).

Di amerika serikat psikoterapi merupakan salah satu bentuk treatmen yang diberikan oleh seorang psikolog kepada pasiennya. tujuan dari psikoterapi adalah untuk meningkatkan fungsi emosi dan sosial seseorang dan untuk menfasilitasi perkembangan psikologis dan spritualis dalam dirinya. psikoterapi juga dapat digunakan untuk memperbaiki perilaku yang tidak benar. selain itu psikoterapi juga berusaha mengurangi penderitaan dan ketidakmampuan pada seseorang yang melibatkan adnya hubungan secara profesional antara terapis dan pasiennya

Tujuan psikoterapi :
·        Perawatan akut (intervensi klinis dan stabilisasi)
·        Rehabilitasi (memperbaiki gangguan perilaku berat)
·        Pemeliharaan ( pencegahan keadaan memburuk jangka panjang)
·        Restrukturisasi (meningkatkan perubahan yang terus menerus pada pasien)

a.     Psikoterapi eksplorasi :
Tujuan :
·        Mengurangi kekakuan gaya defensif
·        Memperbaiki kemampuan mengintegrasikan pengertian intelektual dengan wawasan emosional
·        Mengunkapkan dan melalui pengalaman traumatik masa lalu yang menyakitkan
b.     Psikoterapi direktif/arahan.
Tujuan :
·        Perubahan perilaku maladaptif
·        Meningkatkan dan mengajarkan perilaku yang adaptif.
c.      Psikoterapi eksperensial
Tujuan :
·        Meningkatkan kesadaran akan pengalaman dalam
·        Memperbaiki kemampuan mengekspresikan emosi
·        Meningkatkan perasaan dapat dimengerti oleh orang lain
d.     Psiko terapi suppotrtif
Tujuan :
·        Meningkatkan kesadaran realitas
·        Membantu mengembangkan ketrampilan penyesuaian dan perilaku adaptif realitas
·        Memberikan dorongan dan asuhan


 DAFTAR PUSTAKA:
·         Murad Lesmana, Jeanette. Dasar Dasar Konseling. 2013. Jakarta:
Universitas Indonesia.
·         J. Trull, Thimonthy. J. Prinstein, Mitchell. Clinical Psychology Eight
Edition. 2013. Belmont: WadsWorth.
·         Guilfoyle, M. (2005). From therapeutic power to resistance: Therapy
and cultural hegemony. Theory & Psychology, 15(1), 101-124.
·         Sadock, Benjamin James; Sadock, Virginia Alcott. Kaplan & Sadock's
Synopsis of Psychiatry: Behavioral Sciences/Clinical Psychiatry, 10th Edition, 925 – 931.
·         Yulianto. (2015). Konsep Konseling Kreatif Untuk Penangganan Post                Traumatic Stress Disorder (Ptsd). Guided Imagery, 1(1), 70-81.
·         Stone, Geral. L., (1985), Counseling Psychology : Perpsective and                      Functions, Monterey, California : Brooks/Cole Publishing Company.
·         Sutatminingsih, Raras, (2007) Aktualitas Filsafat Ilmu dalam                       Perkembangan Psikologi : http://library.usu.ac.id/modules.php?op=modload&name=Downloads&file=index&req=getit&lid=119, 23:57 pm : tersedia.
·         Gibson, Robert. L dan Mitchell, Marianne H. (1990), Introduction to                 Counseling and Guidance, Englewood Cliff : Prentice Hall, Inc.
·         Hadi, M., F., Z. (2013). Pemahaman Konselor Sekolah Tentang Tugas              Perkembangan Siswa Dan Layanan Yang Diberikan. Jurnal Ilmiah                Konseling. 2 (1), 43-52.
·         Ratnawulan, S., T. (2016). Manajemen Bimbingan Konseling Di Smp Kota      Dan Kabupaten Bandung. Jurnal Edukasi, 2 (1). 1-17.


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Rabu, 20 April 2016

[Analisis Film Girl, Interrupted] - Ciri, Gejala, Peyebab dan Penanganan Borderline Personality Disorder




Sinopsis dan Analisis Film 

“Sometimes the only way to stay sane is to go a little crazy...” (Susanna Kaysen)

 Diangkat dari buku berjudul sama (Girl, Interrupted) yang merupakan kisah nyata penulisnya, Susanna Kaysen, film ini dibintangi oleh Winona Ryder, Angelina Jolie, Whoopi Goldberg, dan Brittany Murphy.

 Film ini berkisah tentang seorang wanita muda berumur 18 tahun, Susanna Kaysen (Ryder), yang dianggap mengalami gangguan kejiwaan. Ia diduga melakukan percobaan bunuh diri dengan menenggak satu botol aspirin dengan sebotol vodka, dan mengalami halusinasi, sehingga harus dirawat di Claymoore Hospital, sebuah rumah sakit khusus yang menangani masalah gangguan mental dan jiwa dimana gadis-gadis yang bermasalah menjalani terapi dan pengobatan (terkadang sampai diberi electro-shocked) kembali menjadi normal.

 Di rumah sakit Claymoore, Susanna bertemu dengan beragam karakter pasien wanita. Ada teman sekamarnya Georgina (Clea Duvall) yang disebut the incessant liar; lalu pasien eating-disorder, chicken fetishist dan laxative-junkie bernama Daisy (Brittany Murphy); serta Polly (Elisabeth Moss) yang mengalami krisis percaya diri, akibat wajahnya yang rusak ketika kecelakaan masa kecil. Dan tentunya ada Lisa (Angelina Jolie), gadis liar dan veteran di Claymoore (sudah delapan tahun), sering kabur dan berulang kali tertangkap dan masuk lagi Claymoore sehingga sering diobati dengan obat penenang dan diperingati karena keliarannya. Dan pada akhirnya Kaysen kemudian terpikat dan berteman akrab dengan Lisa Rowe (Angelina Jolie) seorang sociopath yang dengan mudah memanipulasi wanita di sekelilingnya. Dia berteman baik dengan seorang perempuan yang bermasalah di lingkungannya (Lisa), ia jatuh di bawah kekuasaan hipnotis Lisa Rowe (Angelina Jolie) yang paling liar dan paling keras dari kelompok itu.

 Di rumah sakit ini, sebagai wanita berumur 18 tahun ia sudah dianggap dewasa hingga bisa menandatangani surat persetujuan mendapatkan perawatan di sana. Awalnya Susanna bersikeras ia tak perlu dirawat karena ia merasa bukan orang gila. Ia teringat ketika kepala sekolah SMA-nya menanyakan rencananya setelah lulus, karena ia satu-satunya murid yang tidak melanjutkan ke perguruan tinggi. Ia hanya ingin menulis.
Tapi hal ini ditanggapi dingin oleh kepala sekolah, dan Susanna merasa tersinggung karena menulis adalah hal yang sangat ia suka:

 “Look, I’m not going on to burn my bra, or drop acid, or go march on Washington.”

 “I just dont want to end up like my mother.”

 Kepala sekolah hanya berujar, “Women today have more choices than that.” Yang langsung dibantah Susanna, “No, they don’t.”

Seperti yang sudah disinggung, masa itu adalah ketika para perempuan marak berdemo untuk menuntut hak-hak mereka. Akan tetapi di sini saya tidak terlalu mengerti kalimat kedua karena latar belakang ibu dari Susanna tidak digambarkan secara jelas, hanya keluarga Susanna yang terlihat berpendidikan dan tergolong menengah ke atas. Jika saya boleh mengartikan, sepertinya ibu Susanna seorang yang berpendidikan tinggi tapi pada akhirnya hanya menjadi ibu rumah tangga biasa.

Di rumah sakit Claymoore, Susanna bertemu dengan beragam karakter pasien wanita. Ada teman sekamarnya Georgina (Clea Duvall) yang disebut the incessant liar; lalu pasien eating-disorder, chicken fetishist dan laxative-junkie bernama Daisy (Brittany Murphy); serta Polly (Elisabeth Moss) yang mengalami krisis percaya diri, akibat wajahnya yang rusak ketika kecelakaan masa kecil. Dan tentunya ada Lisa (Angelina Jolie), gadis liar dan veteran di Claymoore (sudah delapan tahun), sering kabur dan berulang kali tertangkap dan masuk lagi Claymoore sehingga sering diobati dengan obat penenang dan diperingati karena keliarannya. Lisa adalah gadis yang enerjik dan passionate. Dia bisa menjadi pelindung bagi gadis lugu, polos, yang takut melawan. Selain itu ada pula Suster Valerie (Whoopi Goldberg) yang menjadi kepala perawat di sana, yang sabar namun tegas.


Analisis Film 

 Penyebab awal susana didiagnosis menderita borderline personality disorder karena ia diduga melakukan percobaan bunuh diri dengan menenggak satu botol aspirin dengan sebotol vodka, dan mengalami halusinasi, sehingga harus dirawat di Claymoore Hospital, sebuah rumah sakit khusus yang menangani masalah gangguan mental dan jiwa dimana gadis-gadis yang bermasalah menjalani terapi dan pengobatan (terkadang sampai diberi electro-shocked) kembali menjadi normal.

 Pada hari-hari pertamanya di Claymoore, Susanna adalah gadis yang pemarah, anti-sosial, dan keras kepala hingga tidak mau memakan obat penenang yang diberikan rumah sakit padanya. Meski sudah menolak, ia terpaksa memakannya.

 Pada saat itu orang tua susana berkunjung ke Claymoore Hospital menjenguk dan melihat perkembangan Susana, ayah Susana menginginkan Susana cepat pulang karena hari natal akan tiba. Setelah itu ibu Susana menanyakan perihal perbatasan yang diderita Susana kepada psikiater dan terungkap dan Susana pun akhirnya mengetahui penyakit apa yang ia dderita dan ternyata ia mengidap Borderline Personality Disorder. Setelah ia mengetahui penyakitnya itu, ia menanyakan apa penyebabnya dan psikiaterpun menjawab karena depresi dan bisa karena faktor dari orang tua.

 Pada suatu malam ia dan teman-temannya bermain di basement rumah sakit, dan menyusup ke ruangan dokter dan mencari arsip-arsip mereka dan membaca diagnosis (atau seperti yang Lisa katakan, “diag-non-sense”) yang tertera di dalamnya, Susanna disebut memiliki Borderline Personality Disorde.

Ciri-ciri Borderline Personality Disorder dalam film Girl, interrupted :

 Ketidakstabilan citra diri, hubungan, dan suasana hati, ketidakpastian tentang tujuan, impulsif dalam kegiatan yang merusak diri seperti seks bebas, pertentangan sosial dan sikap umumnya pesimis sering diamati hingga merasa ingin mengakhiri hidupnya.


Gejala, Penyebab & Penanganan Borderline Personality Disorder
A.    Gejala
BPD berhubungan dengan masalah-masalah tertentu dalam hubungan interpersonal, citra diri, emosi, perilaku, serta pemikiran.
a.      Hubungan
Orang dengan BPD cenderung memiliki masalah hubungan yang ditandai dengan banyak konflik, argumen, dan pemutusan hubungan. BPD juga berhubungan dengan sensitivitas yang kuat terhadap pengabaian, yang meliputi rasa takut ditinggalkan oleh orang yang dicintai dan berupaya menghindari kenyataan maupun bayangan bila ditinggalkan.
b.      Citra Diri
Individu dengan BPD mengalami kesulitan terhadap stabilitas diri mereka. Banyak laporan menunjukkan penderita mengalami “pasang surut” perasaan ketika menilai diri mereka sendiri.
Suatu saat citra diri mereka positif, namun di lain kesempatan mereka menganggap diri mereka buruk bahkan jahat.
c.       Emosi
Ketidakstabilan emosional adalah ciri kunci dari BPD. Individu dengan BPD mengatakan bahwa mereka seolah-olah berada di sebuah roller coaster emosi, dengan perubahan suasana hati yang sangat cepat.
Hanya dalam hitungan menit, suasana hati dapat berubah secara ekstrem, misalnya dari senang tiba-tiba menjadi sedih. Individu dengan BPD juga mengalami perasaan marah yang intens dan kehampaan.
d.      Perilaku
Individu dengan BPD memiliki kecenderungan terlibat dalam perilaku berisiko dan impulsif, seperti sering belanja secara impulsif, minum alkohol secara berlebihan atau menyalahgunakan narkoba, terlibat dalam seks bebas, atau makan berlebihan (binge eating).
Selain itu, individu dengan BPD lebih rentan terhadap perilaku melukai diri sendiri atau melakukan percobaan bunuh diri.
e.       Perubahan Pola Pikir terkait Stres
Dalam kondisi stres, orang dengan BPD dapat mengalami perubahan dalam pemikiran, termasuk munculnya pikiran paranoid atau disosiasi (mati rasa).

B.     Penyebab
Seperti kebanyakan gangguan psikologis lainnya, penyebab pasti BPD tidak diketahui.
Namun, ada penelitian yang menunjukkan bahwa beberapa kombinasi alami (biologi atau genetika) dan nurture (lingkungan) turut berperan.
a.      Genetik
Gangguan ini ditransmisikan secara genetik dan dipengaruhi oleh lingkungan. Sebuah bentuk ketakutan akan ditinggalkan oleh orang lain muncul, berkaitan dengan perasaan emosional mereka untuk terhubung dengan seseorang yang penting bagi mereka. Saat orang tersebut tidak berada di sisi mereka, maka penderita merasa kehilangan dan tidak berarti sama sekali. Gambaran dari literatur yang ada menyarankan bahwa sifat terkait dengan BPD dipengaruhi oleh gen . Sebuah studi kembar utama yang ditemukan bahwa jika salah satu kriteria bertemu kembar identik untuk BPD, yang lain juga memenuhi kriteria di 35 persen dari kasus. Orang-orang yang telah BPD dipengaruhi oleh gen biasanya memiliki kerabat dekat dengan gangguan tersebut. Kembar, saudara dan studi keluarga lainnya menunjukkan sebagian diwariskan dasar untuk agresi impulsif, tapi studi serotonin gen-terkait dengan saat ini telah disarankan hanya kontribusi sederhana untuk perilaku.
b.      Pelecehan Anak
BPD merupakan hasil dari kombinasi antara kelemahan diri individu dengan tekanan lingkungan, pengabaian atau kekerasan yang diterima saat masih berusia dini, kemudian berlanjut menjadi pemicu munculnya gangguan saat penderita berada pada usia dewasa awal. Sehingga Penderita BPD dewasa seringkali di pandang sebagai korban dari tindak kekerasan, seperti pemerkosaan dan jenis kejahatan lainnya. Ini juga merupakan hasil dari sebuah lingkungan tidak sehat yang ditanggapi secara impulsif dan penilaian yang kurang dalam pemilihan teman hidup dan gaya hidup.
Sejumlah penelitian telah menunjukkan korelasi kuat antara pelecehan anak , terutamapelecehan seksual anak , dan perkembangan BPD. Banyak individu dengan BPD melaporkan telah memiliki riwayat penyalahgunaan dan penelantaran sebagai anak-anak muda. Pasien dengan BPD telah ditemukan secara signifikan lebih mungkin untuk melaporkan telah secara verbal, emosional, fisik atau pelecehan seksual oleh pengasuh baik jender . Ada juga kejadian tinggi inses dan kehilangan pengasuh pada anak usia dini untuk orang dengan gangguan kepribadian borderline. Mereka juga lebih mungkin untuk melaporkan memiliki pengasuh (dari kedua jenis kelamin) menyangkal keabsahan pikiran dan perasaan mereka. Mereka juga dilaporkan telah gagal untuk memberikan perlindungan yang dibutuhkan, dan mengabaikan perawatan fisik anak mereka.
Orang tua (dari kedua jenis kelamin) yang biasanya dilaporkan telah ditarik dari anak secara emosional, dan telah memperlakukan anak tidak konsisten. Selain itu, wanita dengan BPD yang melaporkan riwayat mengabaikan oleh pengasuh wanita dan pelecehan oleh laki-laki pengasuh akibatnya pada risiko secara signifikan lebih tinggi untuk dilecehkan secara seksual oleh noncaregiver (bukan orangtua). Ia telah mengemukakan bahwa anak-anak yang mengalami penganiayaan awal kronis dan lampiran kesulitan dapat terus mengembangkan gangguan kepribadian borderline.
c.       Faktor-faktor perkembangan
Beberapa studi menunjukkan bahwa BPD belum tentu menjadi gangguan trauma-spektrum dan bahwa secara biologis berbeda dari gangguan stres pasca-trauma yang bisa pelopor cluster kepribadian Gejala ini tampaknya berhubungan dengan spesifik pelanggaran, tetapi mereka mungkin terkait dengan aspek lebih gigih lingkungan interpersonal dan keluarga di masa kanak-kanak
Otto Kernberg merumuskan teori kepribadian borderline berdasarkan premis kegagalan untuk berkembang di masa kanak-kanak. Menulis dalam tradisi psikoanalitik, Kernberg berpendapat bahwa kegagalan untuk mencapai tugas perkembangan psikis klarifikasi diri dan lainnya dapat mengakibatkan peningkatan risiko untuk mengembangkan varietas psikosis, sedangkan kegagalan untuk mengatasi hasil pemisahan dalam peningkatan risiko untuk mengembangkan kepribadian borderline.
Penelitian menunjukkan bahwa, daripada memiliki penyebab tunggal, BPD dapat mengembangkan sebagai akibat dari sejumlah faktor yang berbeda. Penelitian telah menemukan bahwa kekerasan baik fisik dan seksual tampaknya menjadi faktor dalam gejala BPD berkembang. Faktor-faktor lain termasuk lingkungan keluarga juga berkontribusi pada perkembangan gangguan ini. ] Bradley et al. menemukan bahwa kedua pelecehan seksual anak (CSA) dan penyalahgunaan masa kanak-kanak fisik baik secara langsung mempengaruhi perkembangan gejala BPD secara langsung dan dimediasi oleh lingkungan keluarga.
Penelitian lain telah memeriksa apakah efektivitas negatif terkait dengan BPD-yaitu, kecenderungan untuk sering merasa marah, jijik, rasa bersalah, gugup, dan perasaan negatif lainnya-dapat dibantu dengan teknik penindasan berpikir , atau secara sadar berusaha untuk tidak berpikir tertentu pikiran. Hasil penelitian ini menemukan bahwa penekanan berpikir dimediasi hubungan antara efektivitas negatif dan gejala BPD. Sementara efektivitas negatif secara signifikan diperkirakan gejala BPD, hubungan ini sangat berkurang ketika penindasan berpikir diperkenalkan ke dalam model. Dengan demikian, hubungan efektivitas negatif gejala BPD dimediasi oleh penindasan pikiran. ditemukan bahwa sensitivitas penolakan dan kontrol eksekutif adalah prediktor gejala BPD, dalam kata lain, orang yang sangat cenderung merasa ditolak, dan / atau yang memiliki kontrol emosi yang buruk dan perilaku mereka, lebih mungkin untuk mengembangkan BPD. Faktor lain penulis dipelajari, yaitu kemampuan seorang anak untuk mentolerir menunda kepuasan pada usia 4, tampaknya tidak memprediksi perkembangan lanjutan BPD.

d.      Ketidakseimbangan Neurotransmitter

Ketidakseimbangan neurotransmiter seperti serotonin, norepinephrine dan acetylcholine (berpengaruh pada jenis emosi dan mood); GABA, (stabilisator perubahan mood), fungsi amygdala; ikut mempengaruhi prilaku-prilaku penderita BPD dalam merespon stressor yang muncul. Prilaku impulsif dan agresivitas disebabkan oleh ketidakseimbangan serotonin dan bagian wilayah prefrontal kortek.

 Penanggulangan/Pengobatan Borderline Personality Disorder
Pegangan praktis American Psychiatric Association untuk pengobatan gangguan kepribadian ambang meyarankan kombinasi antara psikoterapi dengan pengobatan farmakologis untuk hasil yang optimal. Walaupun tidak ada penelitian tentang kombinasi terapi ini namun pendapat lama mengatakan bahwa terapi obat membantu psikoterapi dan begitu juga sebaliknya.

Berikut beberapa terapi pengobatan untuk gangguan kepribadian ambang (Borderline Personality Disorder):
1.      Dialectical Behavioral Therapy
Pertama sekali diperkenalkan oleh Marsha Linehan pada tahun 1990an untuk intervensi pada pasien yang berkeinginan untuk bunuh diri, dialectical behavioral therapy (DBT) pada perawatan BPD merupakan terapi yang berlandaskan pada teori biososial yakni menekankan fungsi-fungsi pribadi dalam mengatur emosi yang sesuai dengan pengalaman lingkungan. DBT berasal dari pelbagai bentuk terapi dari congnitive-behavioral akan tetapi pada DBT menekankan pada saling memberi dan negosiasi antara terapis dan klien; antara rasional dan emosional, penerimaan dan berubah. Target yang ingin dicapai adalah penyesuaian antara pelbagai permasalahan yang sedang dihadapi klien dengan pengambilan keputusan secara tepat. Hal-hal lain yang didapatkan klien dalam terapi ini adalah; pemusatan konsentrasi, hubungan interpersonal (seperti keinginan asertif dan ketrampilan sosial), menghadapi dan adaptasi terhadap distress, identifikasi dan mengatur reaksi emosi secara tepat.

2.      Schema Therapy
Schema therapy merupakan pendekatan didasarkan pada perilaku-kognitif dan gestalt. Fokus terapi ini pada aspek emosi, kepribadian dan bagaimana individu bereaksi dengan lingkungan. Dalam treatment ini menitikberatkan pada hubungan antara terapis dan klien (pendampingan; reparenting), kehidupan sehari-hari klien diluar terapi, dan pengalaman trauma masa kecil.

3.      Cognitive Behavioral Therapy
Cognitive behavioral therapy (CBT) adalah jenis terapi yang sangat luas penggunaannya untuk treatment gangguan mental, namun dalam penyembuhan gangguan BPD terapi ini dianggap kurang efektif. Kesulitan ditemui ketika pengembangan hubungan interpersonal bersamaan dengan treatment yang diberikan, oleh karenanya CBT juga mengadopsi schema therapy.

4.      Family Therapy
Terapi keluarga sangat membantu untuk mengurangi konflik dan stres yang dapat memperburuk kondisi mental individu dengan BPD. Terapi keluarga melatih anggota keluarga menghargai individu BPD, meningkatkan komunikasi dan penyelesaian masalah secara bersama-sama dan saling mendukung antar pasangannya.

5.      Transference-Focused Psychotherapy
Transference-focused psychotherapy (TFP) merupakan bentuk dari terapi psikoanalisa yang dikembangkan oleh Otto Kernberg. Tidak seperti psikoanalisa yang dianggap sudah ketinggalan zaman, terapis dalam TFP berperan aktif secara bersama-sama dengan klien dalam setiap sesi treatment. Terapis berusaha menggali dan mengklarifikasi aspek-aspek dalam persahabatan yang sesuai dengan kebutuhan klien.

6.      Mentalization Based Treatment
Terapi Mentalization based treatment (MBT) merupakan bentuk regulasi kembali mental yang dianggap telah terganggu setelah mengalami pelbagai permasalahan di masa kanak-kanak. Fokus dalam terapi ini adalah mengembangkan diri pasien secara mandiri untuk mengatur cara berpikir berdasarkan teori-teori psikodinamika. Dalam terapi ini diusahakan pasien tidak menghabiskan waktunya begitu lama di rumah sakit, pengurangan pemakaian obat medis, dan menghilangkan hasrat-hasrat negatif seperti keinginan untuk bunuh diri.


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...